Portrait of The Minangkabau Culture According to Hofstede’s Six Cultural Dimensions

  • Dwi Rini Sovia Firdaus
  • Djuara P.Lubis
  • Djoko Susanto
  • Endriatmo Soetarto

Abstract

ABSTRACT
The shifting local cultural values often become a discourse in discussing the effects of globalization influx. But in Minangkabau these concerns can still be ruled out, thanks to the power of ‘study to nature’ philosophy. This is a custom rule that should not be changed. This study raises the popularity of the Hofstede’s concept and uses the six cultural dimensions to map out the differences in parental characteristics based on rural versus semi-urban areas, family typology and life experiences. It also analyzes the response of adolescents towards culture inheritance based on their birthplace. This quantitative study uses a simple summation operation with 106 sample respondents. Each respondent is a family unit consisting of a father, a mother, and adolescent(s) aged 10-19 years. The low score of LTO indicates that the inheritance of Minangkabau cultural values has been going on for some time by parents to their teenagers. Low UAI and IVR scores do not conflict with Minangkabau cultural tenet, although according to Hofstede this condition needs a revamping. Supposedly the value of matrilineal culture is taught by a Minang mother and her brother. However, anomalies were found in non-Minang father and Minang mother (nMF+MM) due to the absence of the mother’s brother in educating his nephew.
Keywords: Hofstede’s six cultural dimensions, core value, cultural inheritance


ABSTRAK
Peristiwa pergeseran nilai budaya lokal sering menjadi wacana dalam membahas akibat dari masuknya pengaruh globalisasi. Namun di Minangkabau kekuatiran ini masih bisa dikesampingkan berkat kekuatan dari penerapan filosofi berguru pada alam. Ini merupakan aturan adat yang tidak boleh berubah. Penelitian ini mengangkat kembali kepopuleran konsep Hofstede dan menggunakan keenam dimensi budayanya untuk memetakan perbedaan karakteristik orang tua berdasarkan daerah tempat tinggal, tipologi keluarga dan pengalaman. Penelitian juga menganalisis respon remaja terhadap pewarisan budaya berdasarkan tempat lahirnya. Penelitian kuantitatif ini menggunakan operasi penjumlahan sederhana dengan 106 sampel responden. Masing-masing responden merupakan satu unit keluarga yang terdiri dari ayah, ibu, dan remaja berusia 10-19 tahun. Ukuran LTO yang rendah merupakan indikator telah berjalannya upaya pewarisan nilai budaya Minangkabau selama beberapa saat oleh orang tua kepada anak remajanya. Namun skor UAI dan IVR yang rendah tidak bertentangan dengan ajaran budaya Minangkabau, meskipun menurut Hofstede kondisi ini memerlukan pembenahan. Seharusnya nilai budaya matrilineal diajarkan oleh seorang ibu Minang dan saudara laki-lakinya. Namun ditemukan anomali pada keluarga ayah non-Minang dan ibu Minang (AnM+IM) karena terjadi kevakuman peran dari saudara laki-laki ibu dalam mendidik keponakannya.
Kata kunci: keenam dimensi budaya Hofstede, nilai inti, pewarisan budaya

Published
2018-09-13
Section
Articles