Dynamics of The Tenurial Conflict in State Forest Area (Case in BKPH Tanggung KPH Semarang)

  • Maria Endah Ambarwati
  • Gatot Sasongko
  • Wilson M.A Therik

Abstract

ABSTRACT
The aim of this research is to describe conflict dynamics in the forest area of Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Semarang, especially in Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Tanggung using descriptive methods with in depth interview, observation and documentation. The informants are choosed from all stake holders involved in the forest area management, include the inhabitant of the villages around BKPH Tanggung forest area and officers from Perum Perhutani. According confict theory of Wehr and Baros, the conflict between the villagers around the forest with Perum Perhutani caused by incompatible goals in the context of incompatible roles in forest area management and contested resources. The main actors are the villagers around the forest and Perum Perhutani, and secondary actors like the chief of villages, and LMDH comittees. The conflict dynamics since 1989 until now is caused by fluctuation of interaction between the villagers and Perhutani depend on the cooersiveness level of both sides.
Keywords: conflict dynamics, conflict analysis, forest management conflict, forest village


ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dinamika konflik yang terjadi di kawasan hutan Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Semarang khususnya di Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Tanggung. Metode yang dipakai adalah penelitian deskriptif kualitatif dengan teknik wawancara mendalam (in depth interview), observasi dan dokumentasi. Informan yang diwawancara adalah masyarakat sekitar hutan yang merupakan warga Kecamatan Tanggungharjo Kabupaten Grobogan dan petugas Perhutani setempat. Berdasarkan teori konflik Wehr dan Bartos, konflik antara masyarakat sekitar hutan dengan Perhutani disebabkan oleh adanya perbedaan tujuan (incompatible goals) yang berlatar belakang perbedaan peran dalam pengelolaan hutan dan perebutan sumberdaya hutan. Aktor utama konflik adalah masyarakat desa sekitar hutan dan Perhutani, di samping itu ada beberapa aktor tambahan seperti Kepala Desa, dan Pengurus LMDH. Dinamika konflik sejak tahun 1989 sampai saat ini merupakan hasil interaksi antara masyarakat dengan Perhutani yang berfluktuasi menurut tingkat koersivitas kedua pihak.
Kata kunci: dinamika konflik, analisis konflik, konflik pengelolaan hutan, masyarakat sekitar hutan

Published
2018-09-13
Section
Articles