KIVP-4 Studi Kasus: Babesiosis pada Anjing Doberman (Borna)

  • Agus Wijaya

Abstract

Kejadian babesiosis pada anjing umumnya disebabkan oleh Babesia canis  dan Babesia gibsoni. Babesia canis memiliki ukuran yg lebih besar dibandingkan dengan Babesia gibsoni. Babesia canis memiliki ukuran 4 – 5 um, sedangkan  Babesia gibsoni memiliki ukuran 1 – 3 um (Zajac & Conboy, 2011). Babesia sp menginfeksi anjing dalam bentuk sporozoid yang terdapat dalam saliva caplak ketika caplak menggigit inang. Sporozoid akan berpenetrasi dalam RBC dan akan mengalami fase parasitic dalam RBC. Sporozoid yg telah masuk dalam RBC disebut tropozoid. Tropozoid dalam RBC akan mengalami pembelahan biner menjadi merozoid. Bersamaan dengan lisis eritrosit, merozoit akan menginfeksi eritrosit yg lainnya (Chauvin et al. 2009).

Gejala klinis yg muncul akibat infeksi Babesia sp antara lain: lemas, tidak nafsu makan, demam, anemia, splenomegaly, lymphadenopathy, ikhterus, diare, muntah, melena, dan gagal ginjal (Barr & Bowman 2006).

Pengobatan Babesiosis pada anjing (B. gibsoni) dg menggunakan Clindamycin 25 mg/kg BB, per oral 2x per hari selama 14 hari dapat secara bertahap menurunkan tingkat parasitemia dan menyebabkan perubahan morfologi yg diindikasikan adanya degenerasi parasit misalnya, segmentasi, penurunan ukuran, kerusakan inti /  nucleus sel, penurunan atau tidak terlihatnya sitoplasma (Wulansari R. dkk, 2003).

Published
2018-10-29