ANALYSIS OF SHORELINE CHANGE IN WEST COAST AREA OF TANAH LAUT DISTRICT SOUTH KALIMANTAN

  • Darmiati Program Studi Magister Teknologi Kelautan, IPB, Bogor
  • I Wayan Nurjaya Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan, FPIK-IPB, Bogor
  • Agus S. Atmadipoera Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan, FPIK-IPB, Bogor
Keywords: abrasion and accretion, coastline changes, Landsat imagery, Tanah Laut Regency

Abstract

Shoreline changes are processes that occur due to the influence of coastal conditions in seeking the balance of the impacts that occur from natural factors and human activities. The coastal area of ​​Tanah Laut Regency South Kalimantan covers along the west coast and south coast region.  Physically this region is influenced by oceanographic dynamics of the Java Sea and the Barito River runoff that changes seasonally. This study aims to determine the shoreline changes of the West Coast area of Tanah Laut Regency, South Kalimantan. The data used are Landsat 8 imagery acquisition in 2016 to describe the current condition and Landsat imagery 7 the acquisition year 2003 as an initial condition. Data were analyzed to determine the shoreline changes that had accretion or abrasion of the coastline. The results showed that the coastline of the West Coast area of Tanah Laut regency experienced changes in abrasion and accretion conditions. Overall the coastal areas of Tanah Laut Regency dominated accretion than abrasion. In particular, cell numbers 3 and 4 have been recorded as abrasion areas; even the cells are near the estuary of Barito River.

Downloads

Download data is not yet available.

References

Arief, M., G. Winarso dan T. Prayogo. 2011. Kajian perubahan garis pantai menggunakan data satelit Landsat di Kabupaten Kendal. J. Penginderaan Jauh dan Pengolahan Data Citra Digital, 8(1):71-70. http://jurnal.lapan.go.id/index.php/jurnal_inderaja/article/view/1614

Davis, F.D. 1984. A technology acceptance model for empirically testing new end-user information systems: theory and results (doctoral dissertation). Massachusetts Institute of Technology. Cambridge. 291p.

Diposaptono, S. dan Budiman. 2008. Hidup akrab dengan gempa dan tsunami. Buku Ilmiah Populer. Bogor. 383hlm.

Diposaptono, S., Budiman dan F. Agung. 2009. Menyiasati perubahan iklim di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil. Buku Ilmiah Populer. Bogor. 359hlm.

Halim, Halili dan L.O.A. Afu. 2016. Studi perubahan garis pantai dengan pendekatan penginderaan jauh di wilayah Pesisir Kecamatan Soropia. J. Ilmu Kelautan, 1(1):24-31.

Hammar-Klose, E.S., E.A. Pendleton, E.R. Thieler dan S.J. Williams. 2003. Coastal vulnerability assessment of Cape Cod National Seashore (CACO) to sea-level rise. USGS Report. 23p.

Handjojo, Z.O., T.F. Manurung dan K.P. Utomo. 2015. Perubahan garis pantai akibat kerusakan hutan mangrove di Kelurahan Terusan Kecamatan Mempawah Hilir Kabupaten Mempawah. J. Mahasiswa Teknik Lingkungan, 1(1):1-10.

Iriadenta, A. 2013. Degradation of coastal swamp ecosystem in subdistrict of Jorong Tanah Laut Regency South Kalimantan. Fish Scientiae, 3(6):157-170. http://doi.org/10.20527/fs.v3i6.1145

Kasim, F. 2012. Pendekatan beberapa metode dalam monitoring perubahan garis pantai menggunakan dataset penginderaan jauh Landsat dan SIG. J. Ilmiah Agropolitan, 5(1):620-635.

Mills, J.P., S.J. Buckley, H.L. Mitchell, P. J. Clarke dan S.J. Edwards. 2005. A geomatics data integration technique for coastal change monitoring. J. Earth Surface Processes and Landforms, 30(6):651-664. http://doi.org/10.1002/esp.1165

Muryani, C. 2010. Analisis perubahan garis pantai menggunakan SIG serta dampaknya terhadap kehidupan masyarakat di sekitar Muara Sungai Rejoso Kabupaten Pasuruan. J. Forum Geografi, 24(2):173-182. http://doi.org/10.23917/forgeo.v24i2.5024

Opa, E.T. 2011. Perubahan garis pantai Desa Bentenan Kecamatan Pusomaen, Minahasa Tenggara. J. Perikanan dan Kelautan Tropis, 7(3):109-114. https://doi.org/10.35800/jpkt.7.3.2011.187

Sardiyatmo, S., S. Supriharyono dan A. Hartoko. 2013. Dampak dinamika garis pantai menggunakan citra satelit multi temporal Pantai Semarang Provinsi Jawa Tengah. J. Saintek Perikanan, 8(2):33-37. http://doi.org/10.14710/ijfst.8.2.33-37

Soraya, D., O. Suhara dan A. Taofiqurohman. 2012. Perubahan garis pantai akibat kerusakan hutan mangrove di Kecamatan Blanakan dan Kecamatan Legonkulon, Kabupaten Subang. J. Perikanan Kelautan, 3(4):355-364.

Sudarsono, B. 2011. Inventarisasi perubahan wilayah pantai dengan metode penginderaan jauh (studi kasus Kota Semarang). J. Teknik, 32(2):163-170. http://doi.org/10.14710/teknik.v32i2.1699

Sugeng, S. 2009. Pemeliharaan alur pelayaran di Sungai Barito. Kapal, 6(2):142-150. https://doi.org/10.14710/kpl.v6i2.2727

Suhana, M.P., I.W. Nurjaya dan N.M. Natih. 2016. Analisis kerentanan Pantai Timur Pulau Bintan, Provinsi Kepulauan Riau menggunakan digital shoreline analysis system dan metode coastal vulnerability index. J. Teknologi Perikanan dan Kelautan, 7(1):21-38. http://doi.org/10.24319/jtpk.7.21-38

Viles, H. dan T. Spencer. 2014. Coastal problems: geomorphology, ecology and society at the coast. Routledge. London. 360p.

Winarso, G., H. Joko dan S. Arifin. 2010. Kajian penggunaan data inderaja untuk pemetaan garis pantai (studi kasus Pantai Utara Jakarta). J. Penginderaan Jauh dan Pengolahan Data Citra Digital, 6:65-72. http://jurnal.lapan.go.id/index.php/jurnal_inderaja/article/view/1187

Published
2020-04-27