Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan http://jma.journal.ipb.ac.id/index.php/jtpk <p><img style="border: 0;" src="/public/journals/48/journalThumbnail_id_ID.jpg" alt="##common.journalThumbnail.altText##" height="210" align="left">JURNAL TEKNOLOGI PERIKANAN DAN KELAUTAN diasuh oleh Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor dengan jadwal penerbitan 2 (dua) kali dalam satu tahun dengan tujuan menyebarluaskan informasi ilmiah tentang perkembangan teknologi perikanan dan kelautan,antara lain: teknologi perikanan tangkap, teknologi kelautan, inderaja kelautan, akustik dan instrumentasi, teknologi kapal perikanan, teknologi pengolahan hasil perikanan, teknologi budidaya perikanan dan bioteknologi kelautan.Naskah yang dimuat dalam jurnal ini terutama berasal dari penelitian maupun kajian konseptual yang dilakukan oleh mahasiswa dan staf pengajar /akademisi dari berbagai universitas di Indonesia, para peneliti di berbagai bidang lembaga pemerintahan dan pemerhati permasalahan teknologi perikanan dan kelautan di Indonesia.</p> <p>Jurnal ini diterbitkan atas kerjasama Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Petanian Bogor dan Masyarakat Sains Kelautan dan Perikanan Indonesia (MSKPI)</p> Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan id-ID Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan 2087-4871 <p>Penulis yang menerbitkan jurnal ini setuju dengan persyaratan berikut:</p><p>a. Penulis mempertahankan hak cipta dan memberikan hak jurnal publikasi pertama dengan karya yang secara bersamaan dilisensikan di bawah <span> </span><a href="http://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0/" rel="license">Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License</a><span>.</span> yang memungkinkan orang lain membagikan karya tersebut dengan pengakuan dari karya penulis dan publikasi awal dalam jurnal ini.</p><p><br />b. Penulis dapat memasukkan pengaturan kontrak tambahan yang terpisah untuk distribusi non-eksklusif dari versi terbitan jurnal tersebut (misalnya, kirimkan ke repositori institusional atau publikasikan dalam sebuah buku), dengan pengakuan publikasi awalnya di jurnal ini</p><p><br />c. Penulis diijinkan dan didorong untuk memposting pekerjaan mereka secara online (misalnya di gudang institusional atau di situs web mereka) sebelum dan selama proses penyampaian, karena dapat menyebabkan pertukaran yang produktif, serta kutipan karya yang diterbitkan sebelumnya dan yang lebih lama.</p><div class="separator"> </div> PRODUKTIVITAS ALAT TANGKAP PANCING ULUR (HAND LINE) PADA RUMPON PORTABLE DI PERAIRAN ACEH UTARA http://jma.journal.ipb.ac.id/index.php/jtpk/article/view/24369 <p>Rumpon <em>portable</em> merupakan suatu jenis alat bantu yang berfungsi untuk mengumpulkan ikan dengan frekuensi sebesar 11.000 – 15.000 Hz, dengan metode penggunaan suara pada atraktor yang ada pada rumpon <em>portable</em> sehingga ikan-ikan pelagis kecil berkumpul di sekitar rumpon <em>portable</em>. Ikan pelagis kecil memiliki kebiasaan hidup membentuk gerombolan dalam melangsungkan hidupnya, baik itu bermigrasi, mencari makan, bahkan memijah. Pancing ulur merupakan salah satu alat tangkap yang digunakan nelayan skala kecil untuk aktifitas penangkapan ikan pelagis kecil, oleh karena itu diperlukan penelitian tentang produktivitas pancing ulur pada rumpon <em>portable</em>. Penelitian ini menggunakan data produksi dari alat tangkap pancing ulur, dengan jumlah pengambilan data selama 15 trip penangkapan pada bulan Agustus-September 2018 bertempat di perairan Aceh Utara. Hasil penelitian menunjukkan jenis dan jumlah ikan yang tertangkap disekitar rumpon <em>portable</em> dengan menggunakan alat tangkap pancing ulur di antaranya ada 8 jenis yaitu ikan selar tetengkek (<em>Megalaspis cordyla</em>), kue (<em>Caranx ignobilis</em>), kerapu (<em>Epinephelus fuscoguttatus</em>), selar (<em>Selaroides leptolepis</em>), cumicumi (<em>Loligo indica</em>), kuniran (<em>Upeneus moluccensis</em>), tenggiri (<em>Scomberomorini</em>), dan kembung (<em>Rastrelliger</em>) dengan total berat 24,25 kg. Rata-rata produktivitas penangkapan ikan dengan alat tangkap pancing ulur pada rumpon <em>portable</em> sebesar 1,61 kg/trip. Komposisi jenis ikan hasil tangkapan menunjukkan cumi cumi dominan tertangkap dengan alat tangkap pancing ulur yang dioperasikan di sekitar rumpon <em>portable</em>.</p> Imam Shadiqin Roza Yusfiandayani Mohammad Imron ##submission.copyrightStatement## http://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 2019-07-29 2019-07-29 9 2 105 113 10.24319/jtpk.9.105-113 HUBUNGAN PANJANG-BERAT DAN POLA PERTUMBUHAN IKAN KAKATUA (Chlorurus strongycephalus) DI TAMAN NASIONAL WAKATOBI http://jma.journal.ipb.ac.id/index.php/jtpk/article/view/24623 <p>Ikan kakatua merupakan sumber daya penting di Kabupaten Wakatobi dan ikan kakatua ditangkap dengan alat tangkap jaring, bubu, dan muroami. Penelitian ini dilakukan di Taman Nasional Wakatobi pada bulan Desember 2014 sampai Maret 2015. Tujuan penelitian adalah melihat pola pertumbuhan dan ukuran pertama kali tangkap untuk ikan kakatua (<em>Chlorurus strongycephalus</em>). Metode penelitian yang digunakan adalah metode survei dimana pengambilan sampel dilakukan secara purposif (<em>purposive sampling</em>) dan data yang digunakan adalah panjang dan berat ikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola pertumbuhan allometrik negatif dan faktor kondisi yaitu sebesar 1,07 yang berarti bahwa ketersedian makanan masih cukup sedangkan ukuran minimal ikan yang tertangkap adalah 31,82 cm. Hasil ini memperlihatkan perlunya regulasi untuk penangkapan ikan kakatua (<em>Chlorurus strongycephalus</em>) di Kabupaten Wakatobi dan modifikasi alat tangkap seperti celah pelolosan untuk bubu.</p> Mercy Patanda Urip Rahmani ##submission.copyrightStatement## http://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 2019-07-29 2019-07-29 9 2 115 121 10.24319/jtpk.9.115-121 SEBARAN DAERAH TANGKAP IKAN TONGKOL (Euthynnus sp.) DI PERAIRAN SELATAN JAWA http://jma.journal.ipb.ac.id/index.php/jtpk/article/view/25345 <p>Tingginya pemanfaatan masyarakat terhadap ikan tongkol kontradiksi dengan mayoritas armada kapal yang dimiliki nelayan di Selatan Jawa berupa <em>gill net</em> dan <em>long line</em> yang spesifikasi untuk menangkap tuna dan pelagis besar lainya. Peta daerah penangkapan ikan tongkol sangat dibutuhkan oleh nelayan, terutama ketika musim paceklik ikan berlangsung menjadi tulang punggung hasil tangkap nelayan. <em>Raw data</em> penangkapan diperoleh dari <em>logbook</em> penangkapan Pelabuhan Perikanan Samudera Cilacap (PPS Cilacap) sepanjang tahun 2017. Penelitian ini bertujuan (1) menganalisis sebaran daerah penangkapan ikan tongkol (<em>Euthynnus sp</em>.) untuk alat tangkap <em>gill net</em> dan <em>long line</em> di perairan selatan Jawa dan (2) menganalisis sebaran menegak lapisan rata-rata bulanan suhu dan salinitas perairan yang optimum untuk ikan tongkol. Hasil penelitian ini menunjukkan sebaran daerah penangkapan ikan tongkol (<em>Euthynnus sp</em>.) untuk alat tangkap <em>gill net</em> adalah 105,56⁰-110,78⁰ BT dan 7,48⁰-11,57⁰ LS serta untuk alat tangkap <em>long line</em> adalah 106,69⁰-109,46⁰ BT dan 7,84⁰-9,37⁰ LS. Sebaran daerah penangkapan ikan tongkol menggunakan <em>gill net</em> tertinggi pada bulan Agustus dengan perolehan hasil tangkap 76.634 kg, sedangkan menggunakan <em>long line</em> pada bulan Juli dengan perolehan hasil tangkap 18.741 kg. Sebaran menegak lapisan rata-rata bulanan suhu perairan untuk ikan tongkol optimum pada bulan Juli, Agustus, September untuk <em>gill net</em> dan bulan Juli serta November untuk <em>long line</em> yaitu 26-27⁰ C. Sebaran menegak rata-rata bulanan salinitas perairan untuk ikan tongkol juga optimum bulan Juli, Agustus, September untuk <em>gill net</em> dan <em>long line</em> sepanjang tahun kecuali bulan Januari merupakan kisaran optimum yaitu berkisar 34,0-43,3 %o.</p> Ibrahim Kholilullah Roza Yusfiandayani Alan F Koropitan ##submission.copyrightStatement## http://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 2019-07-29 2019-07-29 9 2 123 136 10.24319/jtpk.9.123-136 PENENTUAN FISHING GROUND DAN ALAT TANGKAP UNGGULAN IKAN PELAGIS DI KOTA BENGKULU http://jma.journal.ipb.ac.id/index.php/jtpk/article/view/25562 <p>Nelayan Kota Bengkulu dalam pencarian fishing ground (daerah penangkapan ikan) ikan pelagis masih secara konvensional. Ikan pelagis ditangkap oleh beberapa jenis alat tangkap. Untuk mengoptimalkan perikanan pelagis secara berkelanjutan maka dibutuhkan informasi sebaran daerah penangkapan ikan dan pemilihan alat tangkap unggulan untuk ikan pelagis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sebaran daerah penangkapan ikan dan menentukan alat tangkap unggulan ikan pelagis. Metode yang digunakan untuk mengetahui sebaran daerah penangkapan ikan menggunakan pemetaan dan menentukan alat tangkap unggulan menggunakan metode skoring. Hasil penelitian menunjukkan bahwa daerah penangkapan ikan tersebar di sekitar Pulau Tikus, Pulau Mega, dan Pulau Enggano. Berdasarkan hasil standarisasi gabungan dari aspek teknik, biologi, sosial, dan ekonomi terpilih alat tangkap unggulan untuk ikan pelagis yaitu purse seine, bagan perahu, dan pancing tonda. Alat tangkap yang terpilih menjadi alat tangkap unggulan ikan pelagis merupakan alat tangkap yang unggul dari semua alternatif alat tangkap ikan pelagis.</p> Zerli Selvika Mustaruddin Mustaruddin Roza Yusfiandayani ##submission.copyrightStatement## http://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 2019-07-29 2019-07-29 9 2 137 147 10.24319/jtpk.9.137-147 PENDUGAAN DAERAH PENANGKAPAN IKAN LAYANG DENGAN CITRA SATELIT DI PERAIRAN ACEH SEKITAR PIDIE JAYA http://jma.journal.ipb.ac.id/index.php/jtpk/article/view/24942 <p>Daerah penangkapan ikan layang selalu dalam keadaan berubah dan berpindah tempat dengan cara mengikuti perubahan kondisi lingkungan yang secara alamiah ikan akan memilih habitat yang lebih sesuai. Nelayan Pidie Jaya dalam menentukan daerah penangkapan ikan hanya dengan cara melihat tanda-tanda alam yang dipelajari secara turun temurun, sehingga dengan cara tersebut kurang efektif dalam usaha penangkapan ikan. Penggunaan satelit <em>remote sensing</em> telah terbukti memainkan peran kunci dalam pengkajian oseanografi perikanan untuk memprediksi daerah penangkapan ikan. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan jumlah hasil tangkapan dan ukuran panjang ikan layang, menentukan penyebaran klorofil-a dan suhu permukaan laut. Membuat peta pendugaan daerah penangkapan ikan layang potensial di perairan Aceh sekitar Pidie Jaya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei dengan cara mengikuti langsung ke daerah penangkapan ikan dan wawancara terhadap nahkoda kapal <em>mini</em> <em>purse seine</em>. Konsentrasi kandungan klorofil-a di lokasi penangkapan ikan selama penelitian berkisar antara 0,13-0,85 mg/m<sup>3</sup> dan rata-rata 0,35 mg/m<sup>3</sup>, sedangkan suhu permukaan laut dengan nilai rata-rata 29,25°C. Ukuran panjang ikan layang yang tertangkap selama bulan September sampai November berkisar antara 17,9-21,9 cm dengan panjang rata-rata yaitu 19,7 cm. Daerah penangkapan ikan layang potensial berada pada laut lepas pantai yang berjarak dari Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) ke daerah penangkapan ikan &gt; 6 mil laut.</p> Afdhal Fuadi Budy Wiryawan Mustaruddin Mustaruddin ##submission.copyrightStatement## http://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 2019-07-29 2019-07-29 9 2 149 161 10.24319/jtpk.9.149-161 PERTUMBUHAN DAN PEMATANGAN GONAD IKAN GIRU Amphiprion clarkii YANG DIBERI PAKAN MENGANDUNG HORMON OODEV http://jma.journal.ipb.ac.id/index.php/jtpk/article/view/25386 <p>Pertumbuhan dan pematangan gonad memainkan peranan penting dalam budidaya ikan. Untuk memperoleh benih yang berkualitas, induk harus benar-benar matang gonad dan memiliki ukuran tubuh yang sesuai. Umum digunakan dalam kegiatan budidaya ikan, hormon Oodev dapat merangsang pematangan gonad karena hormon Oodev ini mengandung <em>pregnant mare serum gonadotropin</em> dan antidopamin yang sama-sama berperan dalam pematangan gonad. Sekalipun hormon ini begitu populer di bidang budidaya ikan, pengaruh hormon ini terhadap pertumbuhan tubuh dan pematangan gonad terhadap ikan giru (<em>Amphiprion clarkii</em>) belum banyak diketahui. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh dan menentukan dosis pemberian hormon Oodev dalam pakan terhadap pertumbuhan panjang dan bobot serta pematangan gonad ikan giru. Ikan giru diberi perlakuan dengan tiga dosis hormon Oodev berbeda yaitu 0 mL/kg, 0,5 mL/kg, dan 1 mL/kg dengan tiga pengulangan selama 30 hari pemeliharaan. Hasil menunjukkan dosis 1 mL/kg meningkatkan pertumbuhan panjang tubuh pada jantan (0,9 cm) maupun betina (0,7 cm) dan pertumbuhan bobot pada jantan (1,32 gram) maupun betina (3,05 gram) lebih tinggi dengan kontrol. Sejalan dengan pertumbuhan panjang dan bobot, dosis 1 mL/kg meningkatkan nilai <em>gonadosomatic index</em> jantan dan betina yaitu 0,47% dan 0,58% lebih tinggi dengan kontrol. Dari hasil yang diperoleh dapat ditarik kesimpulan bahwa hormon Oodev dengan dosis 1 mL/kg dapat meningkatkan pertumbuhan dan nilai GSI <em>A. clarkii</em>.</p> Aprelia Martina Tomasoa Deidy Azhari Walter Balansa ##submission.copyrightStatement## http://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 2019-07-29 2019-07-29 9 2 163 168 10.24319/jtpk.9.163-168 SPEKTRUM SUARA GULAMAH SEBAGAI KAJIAN AWAL PEMBUATAN RUMPON: KASUS DI PERAIRAN TUBAN, JAWA TIMUR http://jma.journal.ipb.ac.id/index.php/jtpk/article/view/24295 <p>Salah satu komoditas unggulan di Pantai Utara Jawa Timur yang memiliki produksi cukup besar adalah ikan gulamah (<em>Sciaenidae</em>). Ikan ini merupakan salah satu komoditas perikanan laut yang mempunyai potensi tinggi. Sebelumnya pemanfaatan ikan gulamah hanya sebatas dalam bentuk ikan segar dan ikan asing/kering. Belakangan ini organ dalam ikan ini (gelembung renang) juga banyak dimanfaatkan dan justru mempunyai nilai ekonomis jauh lebih tinggi. Tingginya nilai ekonomis pada komoditas ini berimplikasi meningkatnya tekanan eksploitasi terhadap ikan ini semakin meningkat. Bahkan terkadang upaya penangkapan yang dilakukan tanpa memperhatikan kaidah-kaidah penangkapan yang bertanggungjawab. Gulamah merupakan salah satu jenis ikan yang sering mengeluarkan suara “croak” dalam aktivitas tingkah lakunya. Kajian tentang spektrum suara <em>schooling</em> ikan gulamah/tigawaja sebagai kajian awal pembuatan alat pendeteksi dan pengumpul ikan berbasis suara yang efektif dan ramah lingkungan sebagai salah satu instrumen ketahanan pangan produk perikanan laut. Sehingga diharapkan dengan adanya introduksi teknologi baru yang efisien, efektif, murah, sederhana dan dapat memberikan nilai tambah ekonomi bagi nelayan. Metode penelitian deskriptif analitik dan <em>experimental fishing</em>, data yang dikumpulkan adalah data spektrum suara <em>schooling</em> ikan gulamah (<em>Scieanidae</em>), dimana pengambilan data dilakukan di Perairan Tombokboyo, Tuban, Jawa Timur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ikan gulamah di Perairan Tombokboyo mengeluarkan suara dengan rata-rata amplitude berkisar -54,97 dB, rata-rata frekuensi 732,129 Hz, dengan durasi suara 130 <em>miliseconds</em>.</p> Eko Sulkhani Yulianto Alfan Jauhari Dewa Gedhe Raka Wiadnya Sunardi Sunardi Muhammad Arif Rahman ##submission.copyrightStatement## http://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 2019-07-29 2019-07-29 9 2 169 176 10.24319/jtpk.9.169-176 KARAKTERISASI SIFAT FUNGSIONAL KONSENTRAT PROTEIN IKAN SUNGLIR (Elagatis bipinnulatus) http://jma.journal.ipb.ac.id/index.php/jtpk/article/view/25774 <p>Konsentrat protein ikan (KPI) adalah bentuk protein kering yang diekstrak dari daging ikan menggunakan pelarut etanol. Tujuan penelitian ini adalah karakterisasi konsentrat protein ikan sunglir yang diekstrak menggunakan pelarut etanol. Bahan utama yang digunakan dalam penelitian ini adalah daging ikan sunglir dan pelarut etanol teknis. Tahapan penelitian meliputi (1) ekstraksi KPI menggunakan pelarut etanol 90% dengan perbandingan 1 : 3 selama 3 jam, (2) menentukan standar mutu KPI ikan sunglir dan analisis asam amino. Data yang diperoleh dibahas secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai rata-rata rendemen KPI berkisar 20%. Karakteristik sesuai standar FAO 1976 meliputi kadar protein (85,34%), kadar lemak (3,28%), bau (2,11 : bau ikan kuat) dan derajat putih (53,54%) sehingga tergolong KPI tipe B. Analisis kadar air (6,34%), kadar abu (7,47%), sifat fungsional: daya serap minyak (2,48 g/g) dan daya serap air (2,02 ml/g). KPI mengandung 9 asam amino esensial dan 6 asam amino non esensial.</p> Frets Jonas Rieuwpassa Ely John Karimela Devitha Cindy Lasaru ##submission.copyrightStatement## http://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 2019-07-29 2019-07-29 9 2 177 183 10.24319/jtpk.9.177-183 HISTAMIN DAN IDENTIFIKASI BAKTERI PEMBENTUK HISTAMIN PADA TUNA MATA BESAR (Thunnus obesus) http://jma.journal.ipb.ac.id/index.php/jtpk/article/view/25586 <p>Tuna mata besar (<em>Thunnus obesus</em>) merupakan spesies memiliki nilai ekonomis yang tinggi dalam dunia perdagangan. Dalam perspektif <em>fish quality</em> dan <em>safety</em>, tuna dapat menyebabkan permasalahan kesehatan disebabkan adanya kontaminasi mikroorganisme selama proses penangkapan, penanganan maupun pengolahan. Kadar histamin dijadikan indikator mutu dan keamanan pangan produk tuna, karena histamin yang tinggi menyebabkan efek keracunan pada manusia. Penelitian bertujuan menentukan kadar histamin, total bakteri, total Bakteri Pembentuk Histamin (BPH), serta mengidentifikasi bakteri penghasil histamin selama penyimpanan <em>chilling</em> selama sembilan hari. Penelitian dilakukan dalam tiga tahap, yaitu preparasi sampel, penyimpanan sampel, analisis kimia dan mikrobiologi. Selama proses penyimpanan terjadi peningkatan jumlah <em>Total Place Count</em> (TPC), BPH dan kadar histamin secara nyata, baik pada bagian perut, punggung maupun ekor. Jumlah TPC tertinggi terjadi pada hari ke 9 yaitu bagian perut 5,4 x 10<sup>5</sup> cfu/g, punggung 5,1 x 10<sup>5</sup> cfu/g, dan ekor 1,0 x 10<sup>4</sup> cfu/g. Sedangkan jumlah BPH hari ke-9 perut 2,7 x 10<sup>5</sup> cfu/g, punggung 1,4 x 10<sup>5</sup> cfu/g, dan ekor 2,3 x 10<sup>3</sup> cfu/g. Kadar histamin setelah penyimpanan hari ke-9 mengalami peningkatan menjadi 59,73 ppm untuk daging bagian perut, 131,10 ppm daging bagian punggung, dan 96,04 ppm daging bagian ekor. Hasil identifikasi bakteri pembentuk histamin menunjukkan bahwa <em>Bacillus subtilis</em> dengan persentase identifikasi sebesar 99% merupakan bakteri pembentuk histamin pada tuna mata besar.</p> Stevy Imelda Murniati Wodi Wini Trilaksani Mala Nurilmala ##submission.copyrightStatement## http://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 2019-07-29 2019-07-29 9 2 185 192 10.24319/jtpk.9.185-192 TINGKAT KEBUTUHAN NELAYAN TERHADAP PELAYANAN OPERASIONAL PPP KUALA TUNGKAL PROVINSI JAMBI http://jma.journal.ipb.ac.id/index.php/jtpk/article/view/26359 <p>Pelayanan adalah suatu bentuk pemberian jasa guna memenuhi kebutuhan pengguna. Pelabuhan perikanan harus memperhatikan berbagai aspek yang dapat meningkatkan kualitas pelayanannya. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pelayanan apa saja yang belum memenuhi harapan/kebutuhan nelayan Kuala Tungkal terhadap pelayanan operasional dan fasilitas yang telah diberikan oleh pengelola PPP Kuala Tungkal. Metode yang digunakan adalah studi kasus dengan analisis <em>Importance Performance Analysis</em> (IPA). Berdasarkan hasil analisis diketahui atribut-atribut yang berada pada kuadran I yang menjadi prioritas untuk ditingkatkan dan diperbaiki pelayanannya sesuai dengan harapan nelayan yakni (4) Kondisi kolam pelabuhan, (6) Pelayanan aktivitas pelelangan ikan, (8) Pelayanan fasilitas perbaikan kapal (<em>docking</em> kapal), (11) Ketercukupan jumlah es yang di perlukan nelayan, (14) Ketercukupan jumlah BBM yang diperlukan nelayan, (15) Pelayanan air bersih dan (7) Ketercukupan jumlah air yang diperlukan nelayan.</p> Latifah Rizkiana Iin Solihin Anwar Bey Pane ##submission.copyrightStatement## http://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 2019-07-29 2019-07-29 9 2 193 203 10.24319/jtpk.9.193-203