Logam berat pada hiu tikus (Alopias pelagicus) dan hiu kejen (Loxodon macrorhinus) dari Pelabuhan Perikanan Samudera Lampulo, Banda Aceh

Heavy Metal Concentration in Pelagic Thresher (Alopias pelagicus) and Sliteye Shark (Loxodon macrorhinus) from Ocean Fishing Port of Lampulo, Banda Aceh

  • Ilham Zulfahmi 1Pusat Kajian dan Konservasi Akuatik, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry, 2Program Studi Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry
  • Dewi Nola Nasution Pusat Kajian dan Konservasi Akuatik, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry
  • Khairun Nisa Program Studi Tarbiyah Biologi, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry
  • Yusrizal Akmal Program Studi Akuakultur, Fakultas Pertanian, Universitas Almuslim
Keywords: batas aman konsumsi, hiu tikus, hiu kejen, merkuri, pencemaran

Abstract

Hiu merupakan salah satu jenis ikan yang berpotensi tercemar logam berat. Hal ini karena hiu memiliki sebaran yang luas dan tergolong ke dalam konsumen tingkat tinggi pada jejaring makanan akuatik. Informasi terkait kandungan logam berat pada ikan hiu hasil tangkapan di Indonesia masih sedikit. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kandungan logam berat (Pb, Hg, Cu dan Cd) dan batas aman konsumsi daging hiu tikus (Alopias pelagicus) dan hiu kejen (Loxodon macrorhinus) yang didaratkan di Pelabuhan Perikanan Samudera Lampulo, Banda Aceh. Sebanyak sepuluh contoh dari masing-masing daging hiu tikus dan hiu kejen dianalisis kandungan logam beratnya menggunakan metode spektrofotometri serapan atom. Penentuan batas aman konsumsi dari daging hiu dilakukan menggunakan metode maximum tolerable intake (MTI). Hasil penelitian mengungkap dari 20 sampel daging hiu tikus dan hiu kejen yang diperiksa, keberadaan Pb, Cu dan Cd tidak terdeteksi. Sebaliknya, 60% dari total hiu yang diperiksa (baik hiu kejen maupun hiu tikus) terdeteksi mengandung Hg. Kandungan rata-rata Hg pada hiu tikus berkisar antara 0,007– 0,768 mg/kg sedangkan pada hiu kejen berkisar antara 0,030 – 0,708 mg/kg. Batas toleransi maksimum daging hiu tikus yang dapat dikosumsi oleh orang dewasa dan anak-anak dalam waktu satu minggu menurut SNI adalah masing masing sebesar 1,690 kg/minggu dan 0,507 kg/minggu. Sementara itu, batas toleransi maksimum daging hiu kejen yang dapat dikosumsi oleh orang dewasa dan anak-anak dalam waktu satu minggu menurut SNI 7387 adalah masing masing sebesar 2,112 kg/minggu dan 0,633 kg/minggu.

References

Adel M, Conti GO, Dadar M, Mahjoub M, Copat C, Ferrante M. 2016. Heavy metal concentrations in edible muscle of whitecheek shark, Carcharhinus dussumieri (elasmobranchii, chondrichthyes) from the persian gulf: a food safety issue. Journal Food and Chemical Toxicology. 97(1): 135-140.

Agustina T. 2014. Kontaminasi logam berat pada makanan dan dampaknya pada kesehatan. Jurnal Teknobunga. 1(1): 5365.

Alaydrus IS, Fitriana N, Jamu Y. 2014. Jenis dan status konservasi ikan hiu yang tertangkap di tempat pelelangan ikan (TPI) Labuan Bajo, Manggarai Barat, Flores. Al-Kauniyah Jurnal Biologi. 7(2):
83-87.

Amin B, Afriyani E, Saputra MA. 2012. Distribusi spasial logam Pb dan Cu pada sedimen dan air laut permukaan di perairan tanjung buton Kabupaten Siak Provinsi Riau. Jurnal Teknobiologi. 2(1),
1–8.

Astuti I, Karina S, Dewiyanti I. 2016. Analisis kandungan logam berat Pb pada tiram Crassostrea cucullata di pesisir Krueng Raya, Aceh Besar. Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kelautan dan Perikanan
Unsyiah. 1(1): 104-113.

Barokah GR, Dwiyitno D, Nugroho I. 2019. Kontaminasi logam berat (Hg, Pb, dan Cd) dan batas aman konsumsi kerang hijau (Perna virdis) dari perairan Teluk Jakarta di musim penghujan. Jurnal
Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan. 14(2): 95-106.

[BSN] Badan Standardisasi Nasional. 2009. Batas Maksimum Cemaran Logam Berat dalam Pangan. Jakarta (ID): Badan Standardisasi Nasional.

Cahyani N, Batu DTFL, Sulistiono. 2016. Kandungan logam berat Pb, Hg, Cd, dan Cu pada daging ikan rejung (Sillago sihama) di Estuari Sungai Donan, Cilacap, Jawa Tengah. Jurnal Pengolahan Hasil
Perikanan Indonesia. 19(3): 267-276.

Cornish AS, Ng WC, Ho VCM, Wong HL, Lam JCW, Leung KMY. 2007. Trace metals and organochlorines in the bamboo shark Chiloscyllium plagiosum from the southern waters of Hong Kong, China. Science of Total Environment. 2(1): 335-345.

Das K, Beans C, Holsbeek L, Berrow SD, Rogan E, Bouquegneau JM. 2003. Marine mammals from northeast Atlantic: evaluation of their trophic status by d13C and d15N and influence on their
trace metal concentrations. Marine Environmental Research. 1(56): 349-365.

[DSN] Dewan Standardisasi Nasional. 1998. Uji Cemaran Logam dalam Makanan. Jakarta (ID): Dewan Standardisasi Nasional.

Dharmadi, Fahmi, Triharyuni S. 2012. Aspekbiologi dan fluktuasi hasil tangkapan cucut tikusan, (Alopias Pelagicus) di samudera hindia. Bawal. 4(3):131-139.

Emelda C, Supriatno, Ali MS. 2017. Tingkat akumulasi merkuri (Hg) pada organ tubuh kelas gastropoda di Kawasan Perairan Sungai Sikulat Kecamatan Sawang Kabupaten Aceh Selatan. Jurnal
EduBio Tropika. 5(1): 21-26.

Endo T, Hisamici Y, Haraguchi K, Kato Y, Ohta C, Koga N. 2008. Hg, Zn and Cu Levels in the muscle and liver of tiger sharks (Galeocherdo curvier) from The Coast of Ishigaki Island, Japan: relationship
beetwen metal concentrations and body length. Marine Pollution Bulletin. 56(1): 1774-1780.

Hidayah AM, Purwanto, Soeprobowati TR. 2014. Biokonsentrasi faktor logam berat Pb, Cd, Cr dan Cu pada ikan nila (Oreochromis niloticus linn.) di karamba danau rawa pening. Jurnal Bioma. 16(1):
1-9.

Indirawati SM. 2017. Pencemaran logam berat Pb dan Cd dan keluhan kesehatan pada masyarakat di Kawasan Pesisir Belawan. Jurnal Jumantik. 2(2): 54-60.

[JECFA] Joint FAO/WHO Expert Committee on Food Additive. 2004. Evaluation of Certain Food Additives and Contaminants. WHO technical report series. Rome, Italy, 176 pp.

[KEMENKES RI] Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2010. Pedoman Pelayanan Antenatal Terpadu. Jakarta (ID): Direktur Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat Kementerian Kesehatan
Republik Indonesia.

Komarawidjaja W, Riyadi A, Garno YS. 2017. Status kandungan logam berat perairan pesisir Kabupaten Aceh Utara dan Kota Lhokseumawe. Jurnal Teknologi Lingkungan. 18(2): 251-258.

Lesmana F, Ulfah M, Rizwan MT. 2018. Identifikasi spesies hiu yang tertangkap di Perairan Utara Aceh. Jurnal Ilmiah Kelautan dan Perikanan Unsyiah. 3(1): 39-45.

Lopes SA, Abarca NL, Melendez RC. 2013.Heavy metal cocentration of two highly migratory shark (Prionace glauca and Isurus oxyrinchus) in The Southeastern Pacific Water: comments on public health and conservation. Tropical Conservation Science. 6(1): 126-137.

Lozano-Bilbao EL, Lozano G, Gutiérrez AJ, Rubio C, Hardisson A. 2018. Mercury, cadmium and lead content in demersal sharks from the macaronesian islands. Environmental Science and Pollution
Research. 25(21): 21251-21256.

Maftuch, Marsoedi, Putri VD, Lulloh MH, Wibisono FKH. 2015. Studi ikan bandeng (Chanos chanos) yang dibudidayakan di tambak tercemar limbah kadmium (Cd) dan timbal (Pb) di Kalanganyar, Sidoarjo, Jawa Timur terhadap histopatologi hati, ginjal dan insang. Journal of Environmental Engineering & Sustainable Technology. 2(2): 114–122.

Mahmud M, Lihawa F, Banteng B, Desei F, Saleh Y. 2017. Konsentrasi merkuri pada ikan di perairan laut Sulawesi akibat penambangan emas tradisional Buladu Kabupaten Gorontalo Utara. Jurnal
Pengelolaan Lingkungan Berkelanjutan. 1(3): 7-17.

Matulik AG, Kerstetter DW, Hammerschlang N, Divoll T, Hammerschidt CR, Evers DC. 2017. Bioaccumulation and biomagnification of mercury and methylmercury in four sympatric coastal sharks in a protected subtropical lagoon. Marine Pollution Bulletin. 116(1): 357–364.

Mohamad NW, Sahami FM, Panigoro. 2015. Analisis kandungan merkuri pada ikan nike di Kota Gorontalo. Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan. 3(3): 100-102.

Mohammed A, Mohammed T. 2017. Mercury, arsenic, cadmium and lead in two commercial shark species (Sphyrna lewini and Caraharinus porosus) in Trinidad and Tobago. Marine Pollution Bulletin. 119(3): 214-218.

Navarro P, Amouroux D, Ngh DT, RochelleNewall E, Ouillon S, Arfi R, Thuoc CV, Mari X, Torréton JP. 2012. Fate and tidal transport of butyltin and mercury compounds in the waters of the tropical bach dang estuary (Haiphong, Vietnam). Marine Pollution Bulletin. 64(9):1789-1798.

Pratama R, Muhammad M, Rusydi I. 2019. Studi sebaran logam berat timbal (Pb) pada perairan pelabuhan perikanan samudera (PPS) Lampulo Banda Aceh. Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kelautan
Perikanan Unsyiah. 4(4): 185-191.

Prastyo Y, Batu, DTFL, Sulistiono. 2017. Kandungan logam berat Cu dan Cd pada ikan belanak di estuari Sungai Donan, Cilacap, Jawa Tengah. Jurnal Pengolahan Hasil Perairan Indonesia. 20(1): 18-27.

Purnawan S, Rahman R, Karina S. 2017. Kandungan merkuri pada substrat dasar di kawasan muara Krueng Sabee, Krueng Panga, dan Krueng Teunom, Kabupaten Aceh Jaya. Jurnal Ilmu-ilmu Perairan, Pesisir dan Perikanan. 6(3): 265-272.

Putranto TT. 2011. Pencemaran logam berat merkuri (Hg) pada air tanah. Jurnal Teknik. 32(1): 62-71.

Rahayu NI, Rosmaidar, Hanafiah M, Karmil FT, Helmi ZT, Daud R. 2017. Pengaruh paparan timbal (Pb) terhadap laju pertumbuhan ikan nila (Oreochromis nilloticus). Jurnal Ilmiah Mahasiswa
Veteriner. 1(4): 658-665.

Rizkiana L, Karina S, Nurfadillah. 2017. Analisis timbal (Pb) pada sedimen dan air laut di kawasan pelabuhan nelayan Gampong Deah Glumpang Kota Banda Aceh. Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kelautan
dan Perikanan Unsyiah. 2(1): 89-96.

Siregar YI, Edward J. 2010. Faktor konsentrasi Pb, Cd, Cu, Ni, Zn dalam sedimen perairan pesisir Kota Dumai. Maspari Journal. 1(1): 1-10.

Sudarmaji, Mukono J, Corie IP. 2006. Toksikologi logam berat B3 dan dampaknya terhadap kesehatan. Jurnal Kesehatan Lingkungan. 2(2):129-142.

Sulistiono, Irawati Y, Batu DTFL. 2018. Kandungan logam berat pada ikan beloso (Glosogobius giuris) di Perairan Segara Anakan Bagian Timur, Cilacap, Jawa Tengah, Indonesia. Jurnal Pengolahan
Hasil Perikanan Indonesia. 21(3): 423432.

Warni D, Karina S, Nurfadillah. 2017. Analisis logam Pb, Mn, Cu, Dan Cd pada sedimen di Pelabuhan Jetty Meulaboh, Aceh Barat. Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kelautan dan Perikanan Unsyiah. 2(2): 246-253.

White WT, Last PR, Stevens JD, Yearsley GK, Fahmi, Dharmadi. 2006. Economically Important Sharks and Rays of Indonesia. Canberra (AU): Australian Centre for International Agricultural Research.
Canberra.

Yulis PAR. 2018. Analisis kadar logam merkuri (Hg) dan (Ph) air Sungai Kuantan terdampak penambangan emas tanpa izin (PETI). Orbital: Jurnal Pendidikan Kimia. 2(1): 28-36.

Zulfahmi I, Affandi R, Batu DTFL. 2014. Kondisi biometrik ikan nila (Oreochromis niloticus Linnaeus 1758) yang terpapar merkuri. Jurnal Iktiologi Indonesia. 14(1): 37-48.

Zulfahmi I, Affandi R, Batu DTFL. 2015. Perubahan struktur histologis insang dan hati ikan nila (Oreochromis niloticus Linnaeus 1758) yang terpapar merkuri. Jurnal Edukasi dan Sains Biologi. 4(1): 25-31.
Published
2020-04-30